Friday, December 16, 2011

Lady Gaga, antek Illuminati?

Tulisan ini berdasarkan research kecil - kecilan tadi malam, yang sempat gue tweet juga.
Jadi, gue cukup penasaran dengan penampilan Lady Gaga yang cukup nyeleneh itu, dan video klipnya yang ceritanya sulit untuk ditangkap akal sehat, serta semua gimmicks yang ada.

Tadi malam, iseng - iseng gw googling masalah ini, mulai dari beberapa website yang menuduh Lady Gaga adalah antek Illuminati yang terkenal itu, sampai ada wawancara yang dilakukan salah satu website langsung dengan Lady Gaga. Kira - kira begini ceritanya :

Lady Gaga terlahir dari keluarga yang cukup mapan, beragama Katolik Roma. Dia disekolahkan di sekolah khusus putri, yang semacam Santa Ursula kalo di Jakarta. Dengan pengajaran agama yang sangat ketat. Lady Gaga, awalnya bernama Stefanie Germanotta, merupakan murid yang pintarnya diatas rata - rata. Dia berbakat dalam musik, tari, dan bidang seni lainnya. Jadilah dia melanjutkan sekolahnya di sekolah seni di NY kabarnya satu sekolah dengan superstar Paris Hilton.
Lalu, skip skip skip...

Kini, agama Lady Gaga diragukan, ada yang bilang dia pemuja setan, Illuminati, atau sebagainya. Berdasarkan riset google semalam, kabarnya ada operasi rahasia CIA, di tahun 1950-an namanya MKULTRA. Itu semacam misi yang berhubungan dengan mind-control, brainwashing, dan pemanfaatan manusia lainnya dengan bahan - bahan kimia lainnya. Dicurigai, Lady Gaga terlibat dalam misi itu, sebagai korbannya. Hal ini semakin diperkuat dengan definisi "Gaga" dalam bahasa inggris yang berarti "intensely enthusiastic about or preoccupied with". Apakah dia dibawah pengaruh CIA ?

Dalam suatu interviewnya, Lady Gaga bilang bahwa dia percaya Tuhan itu ada, entah dalam bentuk apa. Dan dia percaya, Tuhan itu ada dalam diri para fans-nya. Sempat terlihat pula di salah satu video klipnya yang berjudul "You and I", terlihat Lady Gaga membuat tanda salib, yang merupakan simbol kekatolikan.

Sampai sekarangpun, penampilan Lady Gaga masih sulit dijelaskan dan diterima akal sehat. Apakah dia seperti itu demi popularitas saja, atau ada maksud yang diusungnya?

I.L.U


Ini bukan malam yang panjang, namun bukan juga yang singkat. Daun jendela yang kadang menutup otomatis kena semburan angin malam, pintu yang terus – terusan menutup padahal ingin dibuka. Rasanya malam ini cukup mewakili perasaanku, disamping derasnya hujan yang seakan terus meraung – raung benci. Lantunan pemutar musikku juga tanpa daya menyerah pada derasnya hujan, sehingga cuma sepatah – dua patah lirik yang terdengar dari lagu yang dimainkan.

Ingin rasanya aku menghambur keluar, berteriak di tengah hujan. Melakukan apa yang ingin kulakukan sekarang, menangis. Dengan begitu mungkin derai tangisku akan tersembunyi, tersaru dengan hujan.

Adalah dia, yang pertama, dan yang kuharap jadi yang terakhir. Diana namanya, parasnya biasa saja, cantik juga biasa saja. Kibasan rambutnya tidak semenggoda bintang iklan sampo kecantikan itu, wajahnya tidak secerah artis manapun yang bisa kau sebutkan. Tapi hatinya luar biasa. Hati itulah yang bisa membawa lelaki manapun terbang ke surga tertingginya. Hati itulah yang bisa membuatku melepaskan kata – kata yang sebelumnya sulit terucap, ”I love you”.

Aku, salah satu aset terbesar yang dimiliki negeri ini. Bukannya sombong, tapi hampir di seluruh gelaran kompetisi sains yang pernah diadakan di negeri ini, pasti kau temukan namaku disana. Di tempat tertinggi pastinya. Di salah satu sudut kamarku, berdiri dengan bangganya satu set lemari kaca besar, dengan piala – piala hasil kerja kerasku terpampang gagah di dalamnya. Tapi itu semua tidak membuatku punya kebanggaan yang cukup untuk membawaku keluar dari kamar dan mulai melangkah maju. Hari – hariku cukup banyak dipenuhi dengan diktat – diktat tebal, pulpen berbagai rupa, dari yang tebal hingga yang lebih tipis dari rambutmu sendiri, kertas – kertas soal bertebaran hampir di seluruh sudut kamar. Semua itu yang harus dibayar demi piala – piala gagah yang sombong itu.

Romantisme malam itu tidak berlangsung lama. Sesaat setelah hujan reda, Andre, salah satu jenius sains sepertiku mampir kerumah. ”Reza!”, teriaknya dari balik pagar depan. Kuintip dari balik tirai jendela kamarku, Andre membawa setumpuk diktat fisika miliknya, serta satu tas penuh berisi soal – soal fisika terapan yang didalaminya setahun ini. ”Yaa!”, jawabku dari balik tirai sambil berlalu ke pintu depan. ”Sudah siap belum buat seleksi besok?”, sembur Andre yang sangat telak menamparku di pipi kanan kiri, karena selembar pun belum kupelajari. ”Belum, Dre. Yuk ke kamar aja!”, jawabku pura – pura terlihat santai sambil menyembunyikan bekas tangisan tadi. ”Udah hampir subuh kali, Dre. Ngapain kamu kesini?”, tantangku. ”Kamu juga kok belum tidur? Kukira lagi belajar, jadi ya aku datang aja, mau belajar bareng.”, jawabnya lebih santai.

Akhirnya, sesi belajar dadakan itu pun berakhir, tepat pukul enam. Andre pun segera pulang untuk bersiap berangkat kuliah, begitupun denganku. Dengan raut muka yang sudah tak keruan hasil belajar tadi, ditambah tangisan tadi malam, perlu hampir satu jam aku di dalam sana. Cuma diam memandangi wajah seseorang di balik cermin, apakah dia bernyawa? Apa yang akan dia lakukan jika jadi diriku? Entahlah, dia juga tidak menjawab.


Tidak kulihat Diana di kampus, aroma parfumnya pun tidak sempat lewat depan hidungku. Apa dia sudah pulang? Dengan siapa?. Biasanya dia pasti menungguku, selama apapun. Kuputuskan saja pulang sendiri, dengan pikiran yang terus mengganggu, serta perasaan bersalah apabila ternyata ia menungguku, tapi aku yang tidak melihatnya. Ada pikiran kecil yang menyuruhku berbalik, tapi aku terus saja jalan. Sesampainya dirumah, tepat sekali begitu aku menutup pagar seusai memarkir motor, petir menyambar dan hujan mulai turun lagi dengan derasnya.

Tak mampu lagi kutahan perasaan itu, perasaan bersalah dan khawatir yang kalau dikolaborasikan bisa jadi satu penyebab kematian terhebat di bumi ini. Segera kukirim pesan singkat untuk memastikan ia baik – baik saja. Satu pesan, dua pesan, tiga pesan, tidak dibalas. Sudah cukup pikirku, segera kutelepon ponselnya. Ada nada, tapi terus tidak diangkat, sudah kucoba berulang kali, masih tidak diangkat. Ada yang salah sepertinya. Hingga akhirnya diangkat, segera kukenali dari sepatah ”Halo” yang dia ucapkan, ini bukan suara Diana! ”Halo, ini HP-nya Diana kan? Mana Diana?”, tanyaku cepat. ”Pak, maaf, mungkin yang bapak maksud itu pemilik HP ini ya? Dia baru saja ketabrak mobil waktu menyeberang, sekarang lagi dilarikan ke rumah sakit, Pak”, jawab suara disana tak kalah cepat.

Segera kusiapkan motorku, lalu pergi secepat mungkin ke rumah sakit. Dengan pikiran yang campur aduk, aku melaju kencang di jalanan basah bekas hujan, berusaha secepat mungkin untuk sampai ke rumah sakit. Sesampainya, aku segera mencari kamar tempat Diana dirawat, aku bertanya dengan nafas yang tersengal – sengal, sampai satpam di sebelahku perlu menenangkanku. Dari kejauhan, tampak tante Mia, mamanya Diana, om Paulus, papanya, serta Ricky, kakaknya. Bukan niatku untuk  tidak hormat, tapi aku bertanya langsung tanpa basa – basi, ”Dimana Diana?”. Mereka tampak bersamaan mengarahkanku pada satu pintu dengan tatapannya.

Langsung kuraih gagang pintu, dan kubuka perlahan. Antara aku takut pada kenyataan yang terbaring di depanku dan perasaan bersalah yang sudah terakumulasi begitu banyak plus bunganya, yang seketika dapat memecahkan tangisku. Tapi aku berusaha tetap tenang dan melangkah masuk. Terlihat Diana, terbaring lemah di ranjang, dengan kepala terbalut perban dan lengan yang terbujur kaku terbalut gips. ”Reza..”, panggilnya lemah. ”Ya, Di. Aku disini. Maaf ya, tadi siang aku langsung pulang, aku harus siap – siap buat seleksiku minggu depan.. Aku..”, tiba – tiba, Diana dengan lemah meletakkan telunjuknya di bibirku yang dekat. ”Sshh.”, desisnya pelan. Tampak air mata juga mulai berderai membasahi pipinya, sambil terisak dia membisikkanku sesuatu. ”I love you, Za.”

"... if we ever meet again"


Siang itu, dibalik tembok sebuah rumah kopi tersohor di Jakarta, aku mengurai semua kisah lalu, semua tawa, semua isak tangis yang pernah kami lewati bersama. Wangi kopi yang khas menyelip masuk pikiranku, bersama semua hal yang sebelumnya ada menjadi satu kombinasi mematikan yang siap memaksaku menitikkan air mata saat itu juga. Aku perlu tahu, sejauh mana kami telah berjalan dan apakah perjalanan ini bisa terus berlanjut, atau cukuplah sampai disini. Hampir 3 tahun kami membagi semua, dan kini kami ada di persimpangan. Apakah menambah masa kami bersama, ataukah harus kucari orang lain lagi. Sangat membingungkan.

Pandanganku kutujukan pada pasangan muda – mudi diseberang sana. Mereka tampak sangat bahagia. Terbahak, saling memegang tangan, dan bahkan saling membuang pandangan sesekali. Terasa ada energi yang kuat disana, yang cukup memanggilku untuk berjalan kesana dan meminta petuah – petuah mereka dalam berhubungan. Oh ya, akal sehatku tiba – tiba menampar. Apa yang terjadi, wanita dewasa 24 tahun, cukup mapan, dan menarik sepertiku tertatih – tatih datang kehadapan dua anak bau kencur untuk sepotong nasehat? Langsung kupalingkan wajahku dari mereka berdua, sebelum mereka bisa melihatku didalam.

Saat itu semua rasanya buram, tidak ada yang benar – benar jelas di mataku. Bahkan ketika barista langgananku mengantarkan latte pesananku, ya, memang aku cukup dapat pelayanan khusus disini. Saat pelanggan lain harus mengantri panjang yang pasti akan memotong umur mereka selama beberapa jam, aku tinggal duduk di sofa favoritku dan berteriak ”Jodi!”, dan dalam beberapa menit secangkir latte duduk sama cantiknya dihadapanku. Aku sontak menampar cangkir yang ia bawa, sampai semua mata di rumah kopi itu tertuju padaku, dan Jodi kembali jadi korban. Celemek baristanya berlumuran whipped cream tamparanku. Maaf.

Sesegera itu, langsung kubereskan semua bawaanku dan pergi dari sana. Aku tidak tahan lagi dengan semua tatapan aneh dan decakan yang entah kagum atau heran itu. Aku berantakan sekali. Jalanku ke mobil cuma kuhabiskan menatap lantai, langkah demi langkah, decit demi decit sepatuku yang bisa kudengar sangat jelas. Saat kubuka pintu mobil dua pintuku, tiba – tiba handphoneku bernyanyi, ”..if we ever meet again..”.

Ternyata Bimo, dalang dari semua insiden hari ini, wajah lucunya muncul di layar, sambil kurasakan getaran – getaran, entah dari hatiku atau dari handphoneku. Bimo, orang terakhir yang kucintai, satu – satunya yang bisa mengambil pedih di hatiku dan menggantikannya dengan kasih. Bahkan orang tuaku pun kesulitan, hari ini bisa secara mengejutkan meneleponku, setelah semua yang terjadi hari ini. Mungkin itulah jodoh kata orang. Aku tak langsung mengangkat teleponnya, sekedar membuat dia menunggu lebih lama untuk bicara denganku, padahal aku telah menunggu hampir 3 tahun lamanya.

”Halo,” sapaku singkat, sambil deg – degan menunggu keluar suaranya yang kutunggu – tunggu. ”Wina, ini Wina kan?” jawab suara diseberang sana. ”Iya lah Momo! Ini Wina, emang siapa lagi?”. ”Hai, Win, apa kabarmu? Aku lagi di bandara nih, 2 jam lagi sampai Jakarta. Eh, aku boarding dulu ya! See you!”. ”klik”, suara telepon ditutup, tanpa sempat kujawab sepatah pun.

Ketemu. Bimo. Kangen. Banget. Kata – kata itu yang terus berputar di kepalaku, bagai anak kecil dalam balutan baju pesta menyambut tumpukan kado ulang tahun dihadapannya. Bahagia sekali! Segera saja, kutekan gas mobilku lebih kencang karena aku terlalu senang, dan supaya bisa lebih cepat sampai dirumah bersiap – siap untuk lalu ke bandara menjemput Bimo. Langsung lupa insiden tadi pagi. J

( 3 jam kemudian.. )

Sudah hampir lima kali aku mondar – mandir terminal kedatangan, sudah puluhan tawaran taksi kutolak tapi tetap saja belum kulihat ada tanda – tanda Bimo disini. Akhirnya aku menyerah, kuketik pesan di handphoneku, ”Mo, kamu udah di Jakarta ya beb? Kok tadi aku jemput kamu di bandara ga ada? Udah punya bandara pribadi yang aku ga tau ya? :p”. Terkirim.

Dalam perjalananku pulang, setelah surprise yang gagal total, aku terus merasa was – was sambil tangan kiriku terus memegangi handphone, kalau – kalau ada balasan dari Bimo, yang sampai sekarangpun belum datang. Aku terus bertanya –tanya, apa sih yang ada di pikirannya Bimo, sampai sekarang belum ada kabarnya. Apa dia betulan sudah di Jakarta atau belum? Atau ada apa – apa yang terjadi, sampai belum bisa memberi kabar?

Esok paginya, lebih pagi dari Bruno, anjingku sudah menggedor – gedor pintu kamarku minta diajak main, Bimo menelepon. ”Mo! Kemana aja sih kamu? Aku hubungin dari kemarin ga bisa – bisa! Kamu udah sampai kan beb?”, tanyaku panjang dan terburu – buru. ”Hey Win, sori ya baru bisa telpon kamu sekarang, dari kemarin aku banyak banget pikiran. Oh ya, bisa kita ketemu Win? Di tempat biasa ya, jam 2. Aku mau kasih tau kamu sesuatu. See you there ya!”. Klik, telepon ditutup. Aku bertanya – tanya dalam hati, apa yang membuat Bimo bicara begitu cepat, tidak seperti biasanya dia sangat santai. “Pasti ada sesuatu nih”, pikirku. Entah pikiran ini datang darimana, tapi aku punya perasaan kuat Bimo akan melamarku nanti. Mungkin pikiran gila ya, terlalu pede mungkin. Oh, sangat pede maksudku! J

Tepat pukul dua, aku sudah siap dengan nyaman di sofa favoritku di rumah kopi. Sesekali kubuka cermin kecilku, memastikan tidak ada yang kurang dari penampilanku. Sambil terus melihat arloji dan handphone bersamaan dengan kakiku yang tidak bisa diam, jadilah aku manusia multitasking paling menarik di rumah kopi ini. “Ting tong”, suara bel berbunyi saat pintu utama terbuka, mungkin salah satu ucapan selamat datang yang mereka anggap paling sopan disini. Bimo masuk perlahan sambil menahan pintu untuk…, Siapa? Siapa itu disana?. Sesosok bidadari cantik, ya kuakui memang cantik, berbalut gaun merah pendek, terlihat dengan anggun dan manjanya menggandeng lengan Bimo.

“Win, maaf aku ga kasih tau kamu sebelumnya. Ini pacar baruku, teman sekampusku dari Amerika, kebetulan temanku juga dulu waktu SMA.”. Aku tidak tahu mesti berbuat apa, marah bukan solusi tepat tampaknya. Memprotesnya pun tidak ada gunanya. Segera kukemas semua barang – barangku, dan pergi dari tempat itu, tanpa ada sepatah katapun lepas dari mulutku.

Thursday, November 24, 2011

Listrik padam.

Udara sore yang cukup menyejukkan menerobos masuk bersama sinar matahari sore yang mulai jingga, dan wangi khas yang cukup kukenali, hasil dari ratusan ribu sore yang telah lewat. Tidak berubah. Akupun tidak, selalu menatap balok pipih berukuran sembilan belas inci yang memancarkan cahaya, sambil sesekali memunculkan huruf dan angka didalamnya. Bukan sihir, komputer namanya. Dari kananku terdengar samar - samar gemerisik ocehan penyiar berita televisi lokal ibukota paling kondang. Kadang terdengar suara desisan lembut, kadang berisik, dan kadang hening, kipas angin tua yang selalu setia berputar dari siang hingga malam yang nampaknya mulai kepayahan berputar dan ingin diam saja.

Khusus sore itu, aku terdiam. Hal yang tidak biasanya kulakukan, jemari yang tidak kuadukan dengan jajaran tombol hitam. Mata yang cuma tertuju pada satu titik, tanpa peduli ada apa disana, dan aku terbungkuk tanpa topangan sandaran bangku. Piksel demi piksel kutelusuri, berharap kutemukan sesuatu yang hidup, bukan hanya tulisan tak bernyawa atau gambar tak berjiwa. Sampai akhirnya, di piksel keseratus delapan puluh satu kutemukan sesuatu. Setitik merah, diantara ratusan ribu biru. Aha, ini yang kucari!

Kumundurkan badanku dari meja sambil terus memandangi titik yang sama. Tidak berubah, tetap saja merah. Dikelilingi biru. Kukedipkan mataku, sambil berharap merah itu hilang, tidak hilang. Gantian aku memandangi televisi yang sedang menayangkan kekerasan, lalu dengan cepat aku menoleh lagi ke layar sembilan belas inci itu. Masih ada. "Gila." pikirku.

Kamulah merah itu, menandingi biru. Memberhentikan aku pada seratus-delapan-puluh-satu percobaan yang kutempuh. Terus memantulkan sinarmu yang paling terang, memastikan kau tidak hilang dari tatapanku. Sampai akhirnya kucoba menyentuhmu. Tiba - tiba kau hilang, digantikan hitam. Listrik padam.

Friday, November 4, 2011

#randomthoughts

Saya bisa bilang kalau saya orang yang cukup peka, bukannya apa - apa, saya cuma bisa sedikit menebak - nebak maksud orang dalam perkataannya. Sedikit saja ya, biasanya maksud orang selalu tersirat dari air mukanya, kalau tidak tersurat dalam rangkaiannya. Sudah begitu, besarlah peluang untuk tersinggung, dari kata - kata orang dan maksudnya yang kadang menusuk, walaupun tidak secara gamblang dia katakan sih.

Tersinggung. Hmm, apa yang biasa kita lakukan kalau tersinggung? Diam saja, berontak, atau bicarakan dibelakang? :) Kalau saya, selama masih bisa diterima, saya akan cenderung diam, melihat lebih jauh apa yang bakal dia lakukan selanjutnya. Kalau akan mereda, tidak ada gunanya kan marah - marah? Ya, kecuali kalau setelah itu dia semakin senang, aku mungkin akan memilih diantara dua pilihan tersisa. Sejujurnya masih bingung pilih yang mana..

Permainan perasaan itu kadang menyenangkan, seringkali menyakitkan. Jangan permainkan perasaan siapapun untuk maksud apapun. Tidak akan berguna. Kalaupun berguna, itupun tidak serius. Kan cuma main - main :)

Thursday, October 27, 2011

48

Aku cuma bisa diam, diam menatap keheningan yang akhirnya tampak jelas. 
Kulihat ia seperti berkata - kata, sesuatu yang sulit kubaca dari bibirnya. 
Sepertinya "A", tapi ia mengatupkan mulutnya, sepertinya "S", tapi tak kudengar desisannya. 
Aku terus menatapnya, ia seperti berbisik dengan suara yang sangat jelas ke telingaku, katanya, "48". 
Tanpa sempat kuartikan bisikannya, ia segera memecahkan dirinya lewat langkah berderap. 
Langkah berderap tak berjejak seakan mendekatiku, semakin dekat. Semakin dekat. Kurasakan desir angin mulai setara desir darahku, ia makin mendekat. 
Hingga akhirnya kulihat pintu terbuka dihadapanku, gelak tawa gembira seakan memanggil namaku. 
"Aku belum siap", kataku sambil kumundurkan langkahku, segera berlari.. 
"Bahagiaku belum sampai, mereka masih menungguku", sambil terus berlari.. 
Berlari terus, sambil membayangkan kebahagiaan menungguku disana. Tanpa jemu. Sampai aku terjatuh ditengahnya, dan aku sadar "48" ku telah lewat. Hanya untuk berlari.. 
Penantian dan pencarianku yang cuma diakhiri dengan berlari, dari semua yang mendatangiku...

Saturday, October 1, 2011

Going Concern

Setelah hampir satu minggu pikiran saya terus saja diintervensi bayang - bayangnya, sekarang saya mau mencoba untuk sedikit melepas beban yang semakin berat menggantung di bahu ini. Bukan beban yang jelas - jelas buruk, tapi harapan kosong.


Mungkin hanya pikiran saya saja yang terus - terusan negatif, atau sepenuhnya benar, saya tidak tahu. Rasanya seperti dijanjikan sesuatu (tidak secara harafiah), lalu ditinggalkan begitu saja. Ironis bukan? Tergantung, apakah janji - janji itu memakan hampir seminggu penuh untuk direalisasikan dalam asumsi saya, atau hanya saya yang terlalu ngarep, dan bahkan tidak ada apa - apa seminggu kemarin.


Sejujurnya, saya agak tidak enak hati menulis ini. Takut - takut apa yang saya katakan disini mengacaukan segalanya yang sepertinya baik - baik saja, merusak proses ngarep  saya dengan menghilangkan objeknya dari jangkauan saya. Entahlah, tapi saya merasa perlu mengeluarkan ini dari kepala saya. For my own good.


Pertimbangan dan batasan yang dibuat ini malah akan mengaburkan kaidah cinta yang seutuhnya. Kata - kata ini akan saya jabarkan lagi secara lebih dalam dengan adanya contoh yang terlibat. Sebut saja, seorang wanita yang cantik, menarik, dan memiliki segalanya yang ia perlukan untuk menarik para pria. Ia sungguh memesona seluruh mata disekelilingnya, sambil melempar harapan - harapan bagi pria - pria disana. Ia ada dalam posisi yang baik, dimana ada rasa aman di hatinya bahwa ia tidak akan kesulitan mencari pasangan.


Namun permasalahannya, ia tidak pernah tahu, seperti apa yang ia inginkan. Sementara dalam kebingungannya itu, ia terus saja melemparkan harapan demi harapan pada pria - pria lain sekaligus menyamarkan kegelisahan dalam hatinya. Hal itu memang membuatnya bahagia, saat pria - pria yang menangkap harapan itu mulai menunjukkan yang terbaik yang mereka bisa, membuatnya seakan ratu sejagat, yang tanpa mereka tahu, tidak ada seorangpun dari mereka yang punya kesempatan.


Saat ia masih menikmati kesenangannya mempermainkan pria - pria tadi, ada beberapa dari mereka yang mulai menyadari, ternyata harapan yang mereka tangkap itu sebenarnya tiada. Hanya tipuan kosmik yang seakan tampak nyata. Dan bagi mereka yang sadar, mereka akan mundur perlahan sambil menyesali betapa bodohnya mereka telah salah duga. Dan tentu saja itu akan menyebar, dan serentak mereka akan mundur.


Tinggallah ia sendirian, yang kenyamanannya tiba - tiba direnggut. Tanpa sisa.


Ya, kira - kira itulah yang terlintas di kepala saya saat ini. Dan tolong, demi apapun jangan sampai hal itu terjadi. Saya merasa saya bukan hanya seperti pria - pria tadi, saya juga sahabatnya. Yang sedikit banyak peduli dengannya.


Maafkan atas ke-kepo-an dan ke-soktahu-an ini. Cuma mengungkapkan apa yang saya pikirkan :)

The Suffering Self and The Desires of Our Hearts : What It Takes to Give Ourselves Up and Getting It Back

 “What makes you, you?” That’s the question I come across tonight, in the eve of the New Year’s Eve. Considering the passing year have been ...