Tuesday, November 20, 2012

Tutup Mata, Tutup Mulut, Tutup Telinga.


Pernahkah sejenak kamu menutup matamu? Menghilang dari peradaban. Memisahkan diri dari kenyataan. Membentuk sendiri realitasmu, yang sepenuhnya kamu. Dari kamu, untuk kamu, dan hanya kamu. Bumi yang terus berputar, tidak menyisakan waktu barang sedetik untukmu melihat ke dalammu. Semua hanya semata uang, pendapat orang, dan membuang waktu luang. Pernahkah sedikit terpikir di benakmu, untuk bisa terpejam sehari, tanpa perlu melihat dunia yang putarannya takkan pernah bisa kamu hentikan. Pernahkah tergambar di mimpimu, saat-saat kamu harus menanggapi apa kata orang, membuang waktu dan peluang, hanya untuk seutas kalimat pembelaan yang bahkan kamu ucapkan secara otomatis. Bayangkan semua itu hilang sekarang! Tidak ada lagi bisik-bisik cemburu di belakang, di depan, atau di manapun karena kamu tidak bisa melihat. Tidak ada lagi waktu yang terbuang, semua hanya untuk dirimu sendiri. Bayangkan kamu tidak perlu melihat dirimu sendiri di depan cermin dan terkadang mengeluh, “Aku gemuk.” atau apa saja yang bisa memojokkanmu sendiri. Dan, jika kamu punya waktu lebih, tolong mendongaklah. Pandang Tuhanmu yang sudah lama kau tinggalkan demi persepsi orang tentang dirimu. Tidak, tidak perlulah kamu membuka mata, mata hatimu yang akan bekerja.
Pernahkah sejenak kamu menutup telingamu? Menutup jalan masuk semua hal yang membentuk jalan pikiranmu sekarang. Bisakah kamu tetap bertahan? Apa hidup telah melatihmu untuk terus mendengar, dan bukannya mendengarkan? Tolong, jika ada satu orangpun yang berkata buruk tentangmu, lewatkanlah. Telingamu bukan untuk itu. Coba, sekarang ambillah dua gelas plastik, tenggaklah semua airnya, lalu tangkupkan di kedua telingamu. Apa yang kamu dengar? Kedamaian? Tentu saja. Saat kamu menangkupkan kedua gelas itu di kedua cuping telingamu, suara-suara di sekitarmu terdistorsi hingga hilanglah kekhawatiranmu akan isinya. Dan kamu hanya perlu menertawakannya, orang-orang gila yang terus saja berbicara kosong, seolah-olah merekalah yang paling pintar. Dan kamu di sana hanya tersenyum sambil memejamkan mata, menerka-nerka apa yang sebenarnya mereka sampaikan. Orang-orang itu yang tidak mengerti duniamu, dan takkan pernah mengerti. Sekali lagi, kamu tinggal tersenyum.
Pernahkah sejenak kamu menutup mulutmu? Diam termenung memandangi satu titik berulang-ulang yang sepertinya akan menusuk kerongkonganmu. Mengolah semua perasaan yang meletup-letup ingin dimuntahkan. “Pantaskah aku ada di sini, membaktikan diriku pada dunia, dan bukan pada sesuatu yang tinggi di atas sana?” Begitu tanyamu.

Friday, October 5, 2012

Skripsi S01E01 : Pilot

Hello! Udah lama banget ya, gue gak ngurusin blog ini lagi. Kesibukan-kesibukan yang makin menenggelamkan gue, niat menulis yang tidak juga muncul, sama otak yang lagi butek-buteknya deh nih biang keroknya. Baru sekarang lagi nih, jari-jari gue secara otomatis ngetik blo, yang langsung otomatis ditebak browser gw. Tepat!

Jadi nih yah, ceritanya gue lagi skripsi nih sekarang. Ceritanya doang nih, gw lagi sibuk banget banget. Mondar-mandir kampus, naik-turun gedung, ngejer-ngejer dosen pembimbing gue yang ceritanya juga baik. Semua itu gue lakukan demi secoretan tanda tangan yang bikin kertas gue tambah berantakan, tapi it means everything, man!

Oke, setelah gue pikir-pikir, kejadian ini gak bakal terulang yah (amit-amit ngulang), jadi gue memutuskan untuk mendokumentasikan semua proses pengerjaan skripsi ini. Semua pahit-manisnya, semua contekannya, semuanya, deh! Semua bakal gue beberin abis-abisan di blog ini. So, yah buat yang minat aja sih, boleh mantengin ini blog, siapa tau bermanfaat. (buat apa?)

Baiklah baiklah, sekarang gue ada di tengah jalan. Gue gak sempet dokumentasiin awal perjalanan gue soalnya ada satu dan lain hal yang menghalangi. Jadi tuh ya, perjalanan skripsi gue diawali dengan semangat penuh, setiap hari nongkrong di ruang skripsi, ngebolak-balik skripsi orang, yang akhirnya bikin gue menikmati semilir angin yang dingin di dalem ruang skripsi, enak lho! Terus, sampe rumah, gue mulai nyari-nyari jurnal ilmiah di internet. Mau bahasa apa aja gue jabanin deh, yang penting gue nemu pencerahan.

Selidik punya selidik, pencerahan itu munculnya cukup cepat. Baru sekitar satu minggu gue jadi antisosial, judul pertama gue udah di depan mata! Yay gak tuh?! Pada saat itu, tingkat kepedean gue udah selangit deh,  padahal belom juga nemu dosen pembimbing, bahkan belom tau juga siapa dosen pembimbingnya!

Ketemu dosen pembimbing bikin gue sadar seketika, ternyata semua euforia yang gue rasain selama ini semu! Gue dijatohin lagi ke bumi setelah beberapa hari melayang-layang di udara dengan judul yang menurut gue keren, tapi hampir gak mungkin dikerjain! Setelah itu, gue mulai lagi dari awal, dengan ekspektasi yang lebih rendah.. Syarat dosen pembimbing juga bikin gue makin engap-engapan, 5 variabel independen!?!!

Mulai, hari-hari gue diisi dengan berkelana ke perpustakaan. Dari perpus kampus sendiri sampai melancong ke perpus kampus tetangga. Semua gue lakukan demi sebaris judul, yang akhirnya ketemu juga setelah beberapa hari bongkar-pasang variabel, dan akhirnya gue dapetin juga coretan tanda tangan dosen pembimbing!

Sekarang gue lagi mulai bab 4, jadi mohon doanya ya teman-teman! Semoga kalian gak nemuin berita naas di koran "Seorang mahasiswa UNTAR ditemukan tewas di antara tumpukan laporan keuangan perusahaan manufaktur"

Ciao!

Sunday, September 9, 2012

Hening.


Aku tidak sanggup untuk terus-terusan tampil dalam setiap mimpimu. Apa gunanya, jika kehadiranku hanya meninggalkan luka di hatimu, dan tentu hatiku juga. Aku ingin pergi sepenuhnya dengan damai. Kepindahanku ke sini untuk beristirahat, bukan malah menjadi bunga tidurmu.
Aku tidak sanggup untuk terus-terusan ada di sampingmu. Ya, aku bahagia telah jatuh ke dalam pelukmu, namun tidak saat ini. Ini saatnya aku bisa berdiri sendiri dan berjalan dengan kedua kakiku sendiri, entah apa yang menungguku di depan.
Aku tidak sanggup untuk terus-terusan menjadi orang yang namanya selalu kau sebut. Apa gunanya, setiap kau sebut namaku, yang tertinggal hanya susutan air mata di pipimu. Aku lelah dengan semuanya. Aku menyesali ketidakadaanku sekarang. Di saat aku seharusnya membelai pipimu lembut, kini untuk membayangkannya pun aku tak sanggup.

Biarlah cukup aku yang merasakannya, kau tak perlu.

*

Sepanjang jalan itu kita terdiam. Radio pun telah kumatikan karena sinyalnya tidak stabil. Kini aku sedikit kecewa, seharusnya kubiarkan saja menyala, siapa tahu suara radio yang ’kresek-kresek’ itu bisa membuka pembicaraan. Aku tahu, kau memandang lekat ke arahku, namun tanpa satu patah kata pun yang kau ucap. Aku juga sesekali melihat ke arahmu, mengabaikan jalan di depan kita berdua yang penuh ketidakpastian.
Jalan tol Cikampek, pukul dua dini hari. Entah apa yang bisa kuharapkan dari kondisi itu. Tiga jalur kosong yang mungkin bisa jadi arena lomba lari, saking sepinya. Lampu penerangan yang tidak semuanya menyala, menyamarkan pandangan semua pengemudi, termasuk aku. Jarak pandang yang hanya sekitar tiga meter ke depan membuatku semakin penasaran dengan apa yang ada di depannya lagi. Lagi dan lagi. Mungkin, semangat itulah yang membuat kami, para pengemudi, mencapai tujuannya.

Kau juga memandang ke depan, menelusuri semua kemungkinan yang menunggu kita di sana. Sesekali, kulihat kau memejamkan matamu sesaat, entah karena kau mengantuk, atau kau mencoba melihat dengan lebih jelas. Mulutmu masih terkatup, namun pandangan matamu tajam, seakan berkata-kata. Aku sudah berpengalaman denganmu selama lima tahun tanpa putus, tentu saja aku bisa menangkap artinya dengan jelas.

Aku tidak bisa bersamamu lagi, pergilah jauh-jauh.

Aku ingin berteriak. Sekeras-kerasnya, sampai pita suaraku putus. Namun, kuurungkan niatku itu. Aku malah menggenggam jemarimu erat, mencoba mentransfer kehangatan yang tersisa. Sempat aku berpikir untuk menyalakan radio yang ’kresek-kresek’ itu, mungkin sedikit gangguan bisa mengusir pikiran itu dari kepalamu.
Perlahan aku teringat, satu kalimat yang pernah kuucapkan padamu dulu. ”Hatiku cuma milikmu.”
Kini aku mulai mempertanyakan diriku sendiri,

Lalu, hatiku untuk siapa?

Perjalanan ini menyakitkanku. Bagaimana kita memulainya, dan kini harus mengakhirinya seperti ini. Baru kali ini, kudengar kau berkata seperti itu. Kukira hati kita menyatu, melekat kuat tanpa ada yang bisa memisahkannya.
Ketika aku tersadar, jawaban atas pertanyaanku tadi perlahan-lahan menunjukkan bentuknya. Aku mencoba berlari dari kenyataan yang kiranya telah siap menerkamku bulat-bulat. Kakiku hilang.
Aku berusaha melompati tembok pemisah yang berdiri kokoh di antara kita, di mana aku bisa melihatmu melambai padaku. Wajahmu menunjukkan ketulusan, seakan ini adalah perpisahan termanis kita. Aku mau menggapai batu pertama. Tanganku hilang.

”Kamu di rumah sakit sekarang, tadi pagi kamu kecelakaan. Pacarmu tidak terselamatkan.”

Aku benar-benar teriak.

Friday, August 24, 2012

Silikon


Elena sulit tidur malam itu. Langit-langit putih yang terbentang tepat dua meter di atas tempat tidurnya lebih menarik baginya dibandingkan dengan mimpi-mimpi yang datang menjemputnya. Pikirannya masih belum bisa melupakan kejadian tadi, kejadian paling manis dalam hidupnya. Ia masih ingat jelas, bagaimana Cedric mengucapkan selamat malam sambil membukakan pintu mobil untuknya, bagaimana mereka berpelukan, melepas kepergian satu sama lain.
Elena masih merenung, pelukan tadi terasa kurang berkesan baginya. Cedric terlalu terburu-buru melepaskan diri saat dirinya baru merasa nyaman. Ia mengangkat telepon, raut wajahnya langsung berubah, terpancar kepanikan yang sangat hebat dari kedua matanya. Pasti Magenta. Elena tiba-tiba merasa ngantuk.

Sosok Magenta, yang sama sekali belum pernah dilihatnya, sudah membuat Elena minder duluan. Dari cerita Cedric, Magenta terdengar seperti putri kayangan yang sempurna tanpa cela. Biasanya, setelah mendengar cerita rutin Cedric tentang sosok sempurnanya itu, Elena menjauhi cermin. Ia tidak mau melihat dirinya sendiri. Pun begitu, ia masih belum mau menyerah dengan Cedric.
Elena menemukan sosok sempurnanya dalam diri Cedric. Kesalahan yang disadari sepenuhnya, namun ia tidak kuasa melawan. Elena terus tenggelam dalam pesona Cedric, tanpa peduli keberadaan Magenta, yang sewaktu-waktu bisa mencabut suplai oksigennya, hati Cedric.
*
Matahari sudah tinggi saat Cedric membuka matanya. Tidak banyak yang bisa dilakukannya selain mematikan alarm yang sudah berbunyi berulang-ulang. Ia refleks menutupi matanya dari sinar matahari siang yang menerobos masuk dari kaca jendelanya. Sebentar, ia mengecek seseorang yang tidur di sebelahnya, Magenta, yang ternyata masih terlelap. Ia membisikkan sesuatu ke telinganya, lalu melompat buru-buru dari tempat tidur.
Banyak hal yang dicintainya dari Magenta, yang nomor satu adalah kesediaan Magenta untuk mendengarkan semua keluh kesah Cedric, tanpa berusaha menambah kesulitannya dengan ceritanya sendiri. Cedric telah menyerahkan separuh jiwanya pada sesosok yang terbaring manja di tempat tidurnya itu.
*
Lena! Hoi!” teriak Kiara dari kejauhan, ia berusaha mendapatkan perhatian dari sahabatnya yang sedang berjalan seperti tanpa arah itu, tatapannya kosong.
“Hei, Ra.” Jawab Elena lemah. Hari itu, ia seperti dirundung duka yang amat dalam.
“Ada apa, Len? Si Chicco mati?” tanya Kiara asal, sambil pikirannya terus menerka-nerka, setan apa yang menjerat keceriaan sahabatnya ini.
“Nggak, Ra. Masih sehat kok, si Chicco. Makannya banyak banget.” Suaranya masih datar.
”Terus lo kenapa? Cerita-cerita kali ke sahabat lo ini, yang kebetulan masih punya kuping!” Kiara belum juga menyerah.
Selanjutnya, pertemuan mereka menjadi sepenuhnya berbeda dibanding pertemuan-pertemuan mereka biasanya. Kedua sahabat karib yang selalu melempar ejekan ke satu sama lain, kini bertukar air mata. Tentu saja, Elena lebih deras. Kini Kiara tahu penyebabnya, dan ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan senyum sahabatnya itu.
*
Pada pertemuan mereka sebelumnya, semua berjalan sangat baik. Malam ini, Elena ingin mencoba hal baru, yang siapa tahu bisa semakin mendekatkan Cedric dengan dirinya.
Elena tiba di apartemen Cedric tepat pukul tujuh, lebih cepat sejam dari janji. Elena pikir, akan lebih baik jika ia datang lebih awal dan membantu Cedric menyiapkan makan malam, sesuatu yang dijanjikannya sejak lama. Ia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Ia mencoba memutar kenop pintu yang dikiranya terkunci, ternyata tidak.
Terdengar suara deburan air dari dalam kamar, Cedric sedang mandi rupanya. Pikiran jahilnya muncul untuk mengagetkan Cedric sekeluarnya ia dari kamar. Elena berkeliling untuk mencari tempat persembunyian terbaik, saat tiba-tiba langkahnya terhenti. Mulutnya langsung menganga lebar, diikuti dengan suara ”wow” panjang. Ia mengurungkan niat awalnya dan lebih tertarik dengan sesuatu yang baru saja ditemukannya.

”Elena, sejak kapan...” Cedric yang baru keluar dari kamarnya spontan bertanya, pertanyaan yang tidak sempat ia selesaikan ketika melihat apa yang terjadi di apartemennya.
”Ini beli dimana, Dric? Bagus banget! Persis aslinya ya..” Elena mulai menembakkan peluru berisi pertanyaan yang telah disiapkannya dari tadi. Tentu saja ditambah kekaguman yang jelas tergambar di wajahnya.
“Hmm.. Ini.., ini..” Cedric langsung terbata, tidak siap untuk menjawab Elena yang membombardirnya dengan pertanyaan yang seakan tidak akan pernah bisa terjawab.
“Ah, kita makan malam yuk! Lapar nih!” Elena yang tampak tidak sabar menyelamatkan Cedric dari kesengsaraannya.

Makan malam berjalan sempurna bagi mereka berdua, setidaknya itu yang dipikirkan Elena. Dua porsi ketoprak yang mereka pesan dari Bang Roni sudah cukup memenuhi janji Cedric. Memang tidak ada makan malam mewah seperti yang dibayangkan Elena sebelum berangkat, namun semua yang terjadi malam ini sudah cukup baginya, ia tidak akan meminta lebih lagi.
”Elena, pertanyaanmu tadi, yang belum terjawab, aku ingin menjawabnya.” Cedric membuka pembicaraan dengan hati-hati.
”Hmm, yang mana? Boneka itu?” jawab Elena, santai.
”Iya. Itu Magenta.” jawab Cedric sambil memandang ke kekasihnya yang masih duduk tenang di sofa.
”Hah? Kamu lucu banget, Dric. Tapi, dia cantik lho.”
Cedric terdiam sebentar. ”Serius, Len.” Lalu ia mulai menjelaskan, entah dari mana dimulainya.
Kali ini, Elena terbahak keras, sambil tangannya mengusap air mata yang mulai membasahi pipinya. Perbuatan yang nantinya akan ia sesali seumur hidupnya. Cedric masih tajam menatap matanya, sesuatu yang baru disadari Elena setelah sekitar dua menit berada di pucuk kebahagiaannya. Elena langsung membuang tawanya jauh-jauh.
”Len, sudah malam, kamu pulang, ya.” Cedric berkata-kata tanpa ekspresi.
“Hmm.. Chicco belum dikasih makan. Aku pulang ya. Good night!“ Jawab Elena sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan mulut, menahan tawa.
*
Cedric tidak menyesali keputusannya semalam. Ia tidak perlu menyesalinya, ia melakukan tindakan yang tepat, pikirnya. Harinya pun dimulai seperti biasa, bangun tidur saat matahari sudah tinggi, mengecup selamat pagi Magenta yang masih terlelap, lalu memulai aktivitasnya. Ia sepertinya cukup bahagia.

”Dric, lo gila ya?” tembak Kiara saat kebetulan ia menemuinya di jalan. Ia sudah tahu semuanya, semalam Elena menumpahkan semua padanya. Itulah gunanya sahabat.
”Kenapa, Ra? Gue biasa aja kok. Hidup gue sendiri, jangan ikut campur lah.” Cedric menjawabnya dengan sinis, ia berhak untuk itu.
Kiara mulai melunak. Ia sadar, pendekatannya salah. ”Dric, gue udah kenal lo dari lama, kita udah sering cerita-cerita. Kalo ada apa-apa, lo bisa cerita ke gue kok.” Kiara memulainya lagi, kini lebih lembut.
”Gue udah capek, Ra. Sekarang gue merasa bebas, gak ada lagi yang nyuruh-nyuruh gue,” Cedric memulai ceritanya, nafasnya mulai berat. ”Magenta bisa jadi pendengar yang baik, tanpa nambah-nambahin masalah gue seperti yang udah-udah. Gue cuma perlu pendengar, Ra!”
”Oh, jadi lo masih belum bisa move on?” timpal Kiara, sambil menunjukkan foto seseorang yang mirip sekali dengan Magenta. Ialah Magenta yang sesungguhnya, benar-benar ada.
”Udah lah, Ra. Biarin gue seperti sekarang aja, gak merugikan siapa pun, kan?” Cedric menjawab sambil tertunduk lesu.
*
Beberapa hari dihabiskan Kiara bersama Cedric. Kiara merasa perlu mengembalikan temannya itu ke jalan yang benar, ditambah lagi, ia bisa menyelamatkan Elena sekaligus.
Empat hari yang menyedihkan bagi Cedric akhirnya berakhir. Ia telah mengambil keputusan. Bersama Kiara, ia menggantungkan Magenta palsu di dinding, mengikatnya erat-erat, lalu mereka mundur tiga langkah, mengambil pisau dapur yang telah siap di meja.
”Siap, Dric?” tanya Kiara hati-hati.
Cedric menganggukkan kepala, air mata masih mengaliri deras pipinya.
Mereka maju tiga langkah, lalu mulai menggoreskan pisau di tangan masing-masing ke kulit silikon Magenta. Tangan Cedric seperti kaku, perlu Kiara di sampingnya untuk membantunya menggoreskan pisau.
Prosesi ’pembantaian’ itu akhirnya selesai, berbarengan dengan air mata Cedric yang berhenti mengalir. Cedric mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi, menandakan ketegaran yang telah memenuhi pikirannya, dan ia siap untuk mencoba lagi.

Ponselnya berdering, nomor yang tidak ia kenali terpampang di layar.
”Halo. Ini siapa, ya?” tanyanya cepat, sambil tangannya masih memainkan pisau dapur yang tadi baru mencabut nyawa ’seseorang’.
”Magenta. Kita perlu bicara, Dric.” Suara di ujung telepon seketika menggema berulang-ulang di kepala Cedric, membuatnya jatuh tertunduk. Kali ini dengan pisau dapur yang masih siap sedia di tangannya, ia telah mencabut satu nyawa lagi.
“Dric, dric! Cedric!” Suara di telepon mulai memenuhi seisi ruangan, tanpa ada jawaban.

***

Saturday, July 21, 2012

The Right Time


Apa rasanya punya pandangan yang tak berbatas? Aku punya sekarang. Duduk di hamparan pantai menghadap ke laut memberikanku kebebasan luar biasa. Bagaikan keluar dari dirimu sendiri, lalu beterbangan tanpa batas ke manapun kita mau. Aku bisa duduk berjam-jam di sana, dengan mata yang terus menatap lurus.

Malam ini aku menabrak dinding, kemudian pecah berkeping-keping, dan seketika aku memudar di udara. Kesadaranku kembali. Kamu ada di sana. Kamulah dinding itu. Dinding pembatas paling cantik yang pernah kuhadapi, dinding yang bisa membuatku menyerah bertekuk lutut untuk bisa merubuhkannya, dinding yang membuatku rela terkurung di baliknya, tidak bergerak ke mana-mana, tapi aku senang.

”Lagi apa sendirian malam-malam?” tanyamu lembut saat aku menolehkan wajahku, kaget. Lidahku kelu. Dari pancaran sinar matamu, kulihat dinding itu mulai runtuh, ia meruntuhkan dirinya sendiri, dan aku mulai bisa melihat apa yang ada di baliknya. Kita berdua.

Semalaman itu, kita berangkulan di hamparan pantai itu. Tidak, kita tidak sekali pun saling berpandangan. Malam itu sungguh menakjubkan, bintang-bintang bertaburan layaknya jerawat, membuatku memikirkan sesuatu, sesuatu yang akan benar-benar meruntuhkan dinding pembatas di antara kita.

Waktunya benar-benar tepat saat itu, saat kupalingkan wajahku ke arahmu. Kita sangat dekat. Aku memejamkan mata, begitupun kamu. Kita berdua mendekat, seiring kudengar suara tabuhan drum bertalu-talu mengiringi gerakanku saat itu. Sedikit lagi sampai, dan kamu tiba-tiba mundur, membuyarkan drumband lengkap yang mengiringi saat itu. ”Waktunya belum tepat.” Katamu singkat, sambil berlalu. Aku sendiri lagi, siap kembali terbang.

Esok paginya, kamu berada tepat di sebelahku saat kubuka mata pertama kali. ”Selamat pagi.” katamu, sambil mengusap-usap rambutku yang berantakan. Lalu kamu melompat pergi.

Bukan cara mengawali hari yang baik, kurasa. Dugaanku tepat, seharian itu kuhabisi dengan hanya merenung, di saat kamu terlihat sangat menikmati hari. Apa yang salah denganku? Hatiku bukan lembaran trampolin yang bisa dengan mudah dilompati berkali-kali. Aku lebih mengenali diriku sebagai selembar karpet bulu domba, yang bisa membuatmu betah berlama-lama dengannya. Hari itu lewat begitu saja, sampai malam tiba.

Malam ini, aku kembali melayang-layang di udara, mencari pencerahan yang mungkin akan datang dari atas. Biarkan aku yang jemput pencerahan itu, tapi ia tidak datang juga. Aku tidak banyak melayang malam ini. Aku duduk menumpukan dagu pada lutut sambil berpikir, panjang sekali. Apakah ada maksudnya, semua ini? Dan, aku tidak mendapat jawabnya. Setidaknya aku belajar satu hal malam ini, expecting sucks.

Tidak, aku tidak akan pernah bisa menahanmu di sini. Kamu datang dan pergi, dan aku harus membiasakan diri dengan itu. Beradaptasi dengan keadaan, bukankah itu esensi hidup yang terpenting? Apa yang kita lihat tidak sama, dan takkan pernah sama. Biarlah seperti itu adanya. Aku percaya adanya keajaiban, meski tidak datang saat ini.

Thursday, June 21, 2012

....


Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada hujan di malam minggu. Bukan hujan biasa, badai yang menerpa dan merubuhkan semua rencana brilian yang telah kususun sejak minggu lalu. Hujan yang kini meninggalkanku duduk sendirian terpaku memandangi layar komputer. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan, Facebook jadi pelampiasanku malam ini.
Wah, new friend request. Lumayan, pikirku. Thumbnail foto profilnya menggodaku untuk lebih dari sekedar menekan tombol accept, dan malah masuk ke profile page-nya. Dalam sepersekian detik proses ke sana, sejuta harapan mulai bertunas di hatiku. Sedetik setelahnya, hatiku seketika lebat dipenuhi tunas-tunas yang langsung berubah jadi pohon besar seakan-akan sudah ratusan tahun.
Dimensi waktuku sekejap berhenti. Dengan tatapan yang kini menembus layar komputer, kukagumi dirinya dengan segenap tenaga yang kupunya saat itu. Buset, ganteng amat!
Tidak perlu dua detik untukku memikirkan langkah selanjutnya. Kutelusuri mutual friends, dan kutemukan nama yang sangat familiar di sana. Valerie Sulistio.

“Val, kemarin gue di-add sama Alberto Arnaldo di FB. Lo ada di mutual friends, kenal gak?” tanyaku tanpa berbasa-basi lagi saat kutemui Val di kampus.
“Oh, itu ‘mah temen sekelas gue! Napa, Kay? Demen lo?” jawabnya santai.
”Kenalin gue, Val. Cepet!”
”Yakin, lo? Dia ganteng banget sih, tapi dia......,” Val mulai nyerocos tanpa arah, “tapi orangnya baik, sih.”
Penutup yang baik. “Oke, besok ya.” Jawabku seraya ngeloyor masuk kelas.

(dua hari kemudian..)

Aku terdiam terpaku di tempatku duduk. Memandanginya dari jauh saja sudah membuatku kaku, bagaimana selanjutnya nanti, ya? Seiring derap langkahnya yang semakin cepat, detak jantungku juga seakan berlomba-lomba.
“Hai, Albert.“ Katanya sambil menyodorkan tangannya ke arahku. Mampus!
”Kayla. Salam kenal, ya.” Tidak habis pikir, bagaimana kalimat terakhir itu bisa meluncur dari mulutku.
Ia tersenyum tipis, lalu duduk di sebelahku. Bahagia itu sederhana.
Aku mengerling ke Val, yang dibalasnya dengan senyum masam yang tampaknya dipaksakan.

(dua minggu kemudian..)

Hanya perlu dua minggu, untukku mendapatkannya. Ups, atau ia mendapatkanku. Sudah, tidak peduli. Semua judgement yang pernah ditembakkan Val pada Albert tidak ada yang masuk akal. He’s too sweet to be judged. Dua minggu kemarin jadi hari-hari paling bahagia dalam hidupku sampai saat ini. Senyum yang biasanya terus-terusan pergi dari bibirku, kini betah diam di sana seharian.
Aku mulai merasa, inilah jalan kami berdua. Jalan terbaik. Aku selalu percaya, siapa yang sabar menunggu, tidak pernah akan dikecewakan. Dalam kasus ini, aku memang sering menunggu. Menunggunya selesai kelas untuk kemudian pulang bareng, menunggunya makan di kantin dengan senyum yang masih mengembang. Aku sang penunggu sejati.

(lima bulan penantian kemudian..)

Waktu memang punya caranya sendiri. Ia berjalan pelan di saat-saat bahagia, dan di kala kebahagiaan itu pergi, ia bergulir cepat hingga aku tidak bisa mengejarnya lagi. Penantian-penantian itu, yang awalnya kukira akan berbuah manis, kini mulai menunjukkan wajah aslinya. Seperti perjalanan menempuh labirin berliku mencari secercah cahaya di ujungnya, yang kutemukan malah api yang membakar semua yang tiba di ujungnya.
Aku mulai mempertanyakan keyakinanku sendiri, tembok-tembok megah yang telah kubangun bertahun-tahun kini seketika rubuh. Semua pikiran positif yang kukira bisa membantu, kini kupersilakan pergi, dan mengundang lagi skeptisme yang dulu kutendang jauh-jauh.
Dua minggu sudah ia hilang tanpa kabar, setiap kutelepon ponselnya, nada sambunglah yang selalu muncul. Di dalam setiap SMS yang kukirimkan, pasti kusisipkan segenggam cinta yang kupunya. Kini habislah sudah, tak terbalas.
Aku percaya penuh, kita semua hidup dalam rimba ketidakpastian. Dimensi ruang dan dimensi waktu yang tidak pernah bisa berjalan bersamaan, yang membawa kita kepada konsep ’kebetulan’, atau ’mukjizat’, yang mungkin terdengar religius. Aku tidak pernah percaya adanya kebetulan. Bagiku, ’kebetulan’ yang mereka bicarakan itu hanyalah kebaikan semesta pada mereka-mereka yang sudah berusaha terlalu keras untuk mencapai apa yang sebenarnya bukan untuknya. Semesta memberinya satu kesempatan, hanya untuk membuatnya sadar dan berpikir ulang.
Ketidakpastian juga membawa kita untuk tidak lagi percaya adanya keabadian. Semua yang kita miliki sekarang, hanyalah sesuatu yang berada di antara ’halo’ dan ’sampai jumpa’. Tinggal waktu yang menentukan.

Kini, sampailah aku pada kesadaran penuh yang berhasil kuraih kembali setelah lama terbuai dalam kebahagiaan semu penuh harap. Tidak ada kebetulan dari awal kami bertemu, yang ada hanyalah ketidakpastian yang tidak kusadari.
Kuambil ponselku untuk mengiriminya satu SMS terakhir padanya, saat aku teringat ada satu tempat lagi yang belum kuperiksa. Facebook. Aku meluncur cepat menuju ke profile page-nya, mungkin untuk mencari pembenaran, atau alasan yang bisa membawaku kembali. Tapi nihil.
”Bert, you’re perfect in every way, just not for me. Kita udahan, ya.” Sent
Tepat setelah pesan terakhirku terkirim, mataku berhenti di salah satu line di homepage Facebook.
“Alberto Arnaldo is now in a relationship with Valerie Sulistio”
Tidak ada kebetulan, tidak ada kebetulan, batinku, sambil mengurut dada.

The Suffering Self and The Desires of Our Hearts : What It Takes to Give Ourselves Up and Getting It Back

 “What makes you, you?” That’s the question I come across tonight, in the eve of the New Year’s Eve. Considering the passing year have been ...